Jumat, 16 Januari 2015

MAKALAH PENDIDIKAN INKLUSI Penyeleaian Konflik Salah Paham pada Siswa Sekolah Dasar dengan Win-Win Solution

MAKALAH PENDIDIKAN INKLUSI
Penyeleaian Konflik Salah Paham pada Siswa Sekolah Dasar
dengan Win-Win Solution
Dosen Pengampu: Dwi Yunairifi,M.Pd











  Disusun oleh:
Gangsar Febri Utama            11108244107
Nanik Haryati                        11108244110
5E

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2013

BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Menurut Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1, mengenai ketentuan umum butir 6, pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lainnya yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa guru adalah pendidik.
Tugas utama guru yaitu mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didiknya. Selain itu guru juga merupakan orang tua kedua bagi peserta didik saat di sekolah. Tugas guru tidak jauh berbeda dengan tugas orang tua di rumah pada umumnya. Guru tidak cukup membantu peserta didik sebagai penyampai ilmu pengetahun yang dibutuhkan peserta didik, melainkan juga perlu mengetahui perkembangan keterampilan dan sikap peserta didik di lingkungan sekolah dan lingkungan bermainnya.
Dalam perkembangan peserta didik di sekolah tidak selalu pada keadaan baik dan normal. Beberapa masalah sering muncul pada peserta didik termasuk dalam perkembangan sosial peserta didik. Dalam perkembangan sosial peserta didik usia sekolah dasar (SD) menunjukkan kecenderungan orientasi kelompok yang cukup kuat. Perkembangan sosial siswa SD telah menunjukkan pula sikap loyal dan kesediaan berkorban untuk kelompok. Namun demikian ketidakkonsekuensinan dalam kelompok masih tampak. Ketidakkonsekuensinan dalam berkelompok sering menimbulkan masalah atau konflik diantara peserta didik. Siswa SD tidak menentu dalam berkelompok, bisa jadi yang tadinya berteman akrab tiba-tiba menjadi tidak berteman hanya karena disebabkan kesalah pahaman, atau persaingan untuk berprestasi. Penyelesaian konflik pada peserta didik tidak cukup dengan mendamaikan mereka, melainkan guru perlu melakukan tindak lanjut berupa bimbingan, konseling sera persuasif agar peserta didik dapat menerima dan memahami keadaan dirinya serta orang lain yang ada di sekitarnya. Agar peserta didik memiliki sikap toleransi dan saling menghargai antar teman penyelesaian yang dilakukan guru sebaiknya menggunakan win-win solution.

B.     RUMUSAN  MASALAH
Berdasar latar belakang rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut.
1.      Apa yang dimaksud dengan konflik?
2.      Apa yang dimaksud dengan salah paham?
3.      Apa yang dimaksud dengan Win-win Solution?
4.      Bagaimana cara menangani konflik salah paham dengan win-win solution?

C.    TUJUAN
1.      Untuk mengetahui yang dimaksud konflik
2.      Untuk mengetahui yang dimaksud salah paham.
3.      Untuk mengetahui yang dimaksud win-win solution.
4.      Untuk mengetahui penanganan konflik salah paham dengan menggunakan strategi win-win solution.
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Konflik
1.      Pengertian Konflik
Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. Permusuhan atau konflik diawali dengan adanya perbedaan atau persaingan yang serius sehingga sulit didamaikan atau ditemukan kesamaannya.
Menurut Taquiri dalam Newstorm dan Davis (1977), konflik merupakan warisan kehidupan sosial yang boleh berlaku dalam berbagai keadaan akibat daripada berbangkitnya keadaan ketidaksetujuan, kontroversi dan pertentangan di antara dua pihak atau lebih pihak secara berterusan. Menurut Devito (1995:381) interaksi yang disebut komunikasi antara individu yang satu dengan yang lainnya, tak dapat disangkal akan menimbulkan konflik dalam level yang berbeda-beda (Wirawan, 2010).
Menurut Pace & Faules, Konflik merupakan ekspresi pertikaian antara individu dengan individu lain, kelompok dengan kelompok lain karena beberapa alasan. Dalam pandangan ini, pertikaian menunjukkan adanya perbedaan antara dua atau lebih individu yang diekspresikan, diingat, dan dialami. Menurut Killman dan Thomas (1978), konflik merupakan kondisi terjadinya ketidakcocokan antar nilai atau tujuan-tujuan yang ingin dicapai, baik yang ada dalam diri individu maupun dalam hubungannya dengan orang lain. Kondisi yang telah dikemukakan tersebut dapat mengganggu bahkan menghambat tercapainya emosi atau stres yang mempengaruhi efisiensi dan produktivitas kerja (Wirawan, 2010).
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa konflik merupakan salah satu gejala psikologis yang umumnya menggiring individu pada suasana kurang menguntungkan terutama jika ia tidak mampu mengatasinya. Konflik berbentuk pertentangan fisik dan non-fisik, yang pada umumnya berkembang dari pertentangan non-fisik menjadi benturan fisik.

2.      Jenis-jenis Konflik
Konflik dibagi menjadi beberapa jenis diantaranya
Menurut subyeknya
a.       Konflik dalam diri individu
Konflik terjadi bila pada waktu yang bersama seseorang memiliki dua keinginan yang tidak mungkin dipenuhi sekaligus.
b.      Konflik antar individu dalam organisasi yang sama
Pertentagan kepentingan atau keinginan yang biasanya terjadi karena perbedaan statur, jabatan, bidang pekerjaan dan lain-lain.
c.       Konflik antar individu dengan kelompok
Serig kali berhubungan dengan cara indiviu menghadapi tekanan-tekanan untuk mencapai konformitas, yang ditekankan kepada mereka oleh kelompok kerja mereka.
d.      Konflik antar kelompok dalam organisasi yang sama
Konflik ini merupakan tipe konflik yang benyak terjadi di dalam organisasi-organisasi. Misal konflik antar lini staf, pekerja dan pekerja.
e.       Konflik antar Organisasi
Konflik ini biasanya disebut dengan persaingan.
Menurut Akibatnya
a.       Konflik funsional/ konstruktif yakni konflik yang menimbulkan akibat positif. beberapa manfaatnya ialah     :
§  Akan meningkatkan kreativitas
§  Akan meningkatkan semangat kerja
§   Pengambilan keputusan akan lebih baik
§   Berusaha untuk mencari pendekatan baru
§  Memperjelas pandangan masing-masing individu
b.      Konflik disfungsional / destruktif  yakni konflik yang menimbulkan akibat negatif.
Beberapa kaibat konflik ini ialah        :
§  Menimbulkan kecemasan pada diri individu
§  Meningkatkan ketegangan dalam berhubungan dengan individu lain
§   Akan timbul rasa tidak percaya dan curiga
§  Individu cenderung hanya memperhatikan kebutuhan pribadi
§   Adanya penolakan dalam bekerjasama
3.      Faktor Penyebab Terjadinya Konflik
Secara umum, ada 7 faktor penyebab konflik yaitu : peran yang harus dijalankan, kebutuhan yang berbeda, perbedaan nilai, perbedaan tujuan, perbedaan perilaku, informasi yang kurang lengkap, dan karena adanya tekanan dari lingkungan.
a.       Faktor penyebab konflik antar individu
§  Perbedaan individual, meliputi perbedaan nilai, perbedaan kebutuhan, perbedaan harapan, perbedaan keyakinan, perbedaan cara pandang. Perbedaan pengetahuan dan perbedaan kemampuan.
§  Sistem informasi yang tidak baik, berupa pesan yang tidak diterima, instruksi diinterpretasikan secara slah, informasi/data yang digunakan berbeda, atau karena disampaikan pada waktu yang tidak tepat.
§  Perbedaan peran, diantaranya tugas yang saling tergantung, perbedaan tujuan antar peran, perbedaan tanggung jawab dan perbedaan sumber daya.
§  Tekanan dari lingkungan, karena terjadi prubahan atau karena adanya ketidakpastian.
Setiap manusia adalah individu yang unik. Artinya, setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya. Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, tentu perasaan setiap warganya akan berbeda-beda. Ada yang merasa terganggu karena berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur.
b.      Perbedaan latar belakang
Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik.
c.       Perbedaan kepentingan
Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, misalnya perbedaan kepentingan dalam menghadiri perkuliahan, beberapa mahasiswa berangkat kuliah karena tujuannya untuk mendapatkan ilmu, ada beberapa mahasiswa yang kuliah karena memang sudah tugasnya kuliah, ada yang berangkat kuliah karena dari pada di rumah/ di kos tidak memiliki pekerjaan, dan ada beberapa mahasiswa pergi kuliah karena motif yanng lain. Di sini jelas terlihat ada perbedaan kepentingan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya sehingga akan mendatangkan konflik sosial di antara mahasiswa, meski tidak secara eksplisit nampak. Konflik akibat perbedaan kepentingan ini dapat pula menyangkut bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Begitu pula dapat terjadi antar kelompok atau antara kelompok dengan individu, misalnya konflik antara kelompok buruh dengan pengusaha yang terjadi karena perbedaan kepentingan di antara keduanya. Para buruh menginginkan upah yang memadai, sedangkan pengusaha menginginkan pendapatan yang besar untuk dinikmati sendiri dan memperbesar bidang serta volume usaha mereka.
d.      Perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat
Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan tersebut dapat memicu terjadinya konflik sosial. Misalnya, pada masyarakat pedesaan yang mengalami proses industrialisasi yang mendadak akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai masyarakat industri. Nilai-nilai yang berubah itu seperti nilai kegotongroyongan berganti menjadi nilai kontrak kerja dengan upah yang disesuaikan menurut jenis pekerjaannya. Hubungan kekerabatan bergeser menjadi hubungan struktural yang disusun dalam organisasi formal perusahaan. Nilai-nilai kebersamaan berubah menjadi individualis dan nilai-nilai tentang pemanfaatan waktu yang cenderung tidak ketat berubah menjadi pembagian waktu yang tegas seperti jadwal kerja dan istirahat dalam dunia industri. Perubahan-perubahan ini, jika terjadi seara cepat atau mendadak, akan membuat kegoncangan proses-proses sosial di masyarakat, bahkan akan terjadi upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan karena dianggap mengacaukan tatanan kehiodupan masyarakat yang telah ada.

B.     Pengertian Salah Paham
Salah paham merupakan salah satu penyebab utama terjadinya suatu konflik. Kondisi semacam ini umumnya disebabkan karena tingkat kemampuan berkomunikasi yang kurang baik. Kemampuan berkomunikasi di sini baik dalam hal menyampaikan informasi maupun dalam hal menerima informasi. Suatu kondisi salah paham biasa dimunculkan ketika suatu informasi yang diterima oleh seseorang memiliki makna atau esensi yang berbeda dari yang dimaksudkan oleh si pemberi atau penyampai informasi. Oleh karena itu kemampuan berkomunikasi merupakan salah satu hal penting dalam hidup bermasyarakat.

C.    Win-win Solution
Penyelesaian masalah dengan win-win solution dipandang sebagai penyelesaian masalah yang manusiawi, karena menggunakan segala pengetahuan, sikap dan keterampilan menciptakan relasi komunikasi dan interaksi yang dapat membuat pihak-pihak yang terlibat saling merasa aman dari ancaman, merasa dihargai, menciptakan suasana kondusif dan memperoleh kesempatan untuk mengembangkan potensi masing-masing dalam upaya penyelesaian konflik. Jadi strategi ini menolong memecahkan masalah pihak-pihak yang terlibat dalam konflik, bukan hanya sekedar memojokkan orang. Strategi menang-menang jarang dipergunakan dalam organisasi dan industri, tetapi ada 2 cara di dalam strategi ini yang dapat dipergunakan sebagai alternatif pemecahan konflik interpersonal yaitu:
a.       Pemecahan masalah terpadu (Integrative Problema Solving)
Usaha untuk menyelesaikan secara mufakat atau memadukan kebutuhan-kebutuhan kedua belah pihak.
b.      Konsultasi proses antar pihak (Inter-Party Process Consultation)
Dalam penyelesaian melalui konsultasi proses, biasanya ditangani oleh konsultan proses, dimana keduanya tidak mempunyai kewenangan untuk menyelesaikan konflik dengan kekuasaan atau menghakimi salah satu atau kedua belah pihak yang terlibat konflik.

D.    Penanganan Konflik Salah Paham dengan Win-win Solution
Tahap yang dapat dilakukan guru untuk menangani konflik salah paham pada siswanya dengan bimbingan, konseling dan persuasif adalah sebagai berikut.
1.      Mencari tahu/ informasi latar belakang atau penyebab, sumber-sumber dan inti masalah konflik pada siswa.
Caranya dapat dilakukan dengan bertanya pada lingkungan di sekitarnya atau dengan bertanya langsung pada siswa yang berkonflik. Jika menggunakan pilihan ke-dua maka guru perlu membangun tinggi hubungan pada siswa yang berkonflik agar siswa menjadi lebih terbuka dan mau menceritakan masalah yang dihadapinya.
2.      Langkah ke-dua, guru dapat memberi bimbingan kepada siswa untuk melakukan perdamaian.
Setelah terjadi tinggi hubungan atara guru dan siswa, guru dapat memberikan pemahaman dengan persuasif bahwa ketika terjadi masalah sebaiknya diselesaikan dengan baik-baik. Guru dapat menanyakan hal apa yang membuat siswa-siswanya berkonflik berkelanjutan atau guru dapat menanyakan hal-hal apa yang dituntut dari satu pihak ke pihak yang konflik yag lain, dan sebaliknya. Dengan megetahui tuntutan ini diharapkan diantara siswa tidak merasa dirugikan dengan perdamaian yang dilakukan.
3.      Guru juga dapat memberikan konseling yaitu dengan beberapa treatment konseling yang nantinya membuat siswa menyadari bahwa konflik diantara mereka perlu diakhiri. Tidak hanya diselesaikan tetapi juga membuat siswa memahami kebutuhan dan kepentingan orang yang satu berbeda dengan orang yang lain, maka diharapkan siswa lebih terbuka dan memiliki rasa toleransi antar sesama. Dalam konseling guru dapat menggunakan mediator atau model yang dapat menggugah kesadaran kepada siswanya untuk berdamai dengan hati yang ikhlas.


BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Konflik merupakan salah satu gejala psikologis yang umumnya menggiring individu pada suasana kurang menguntungkan terutama jika ia tidak mampu mengatasinya. Konflik berbentuk pertentangan fisik dan non-fisik, yang pada umumnya berkembang dari pertentangan non-fisik menjadi benturan fisik.
Salah paham adalah suatu informasi yang diterima oleh seseorang memiliki makna atau esensi yang berbeda dari yang dimaksudkan oleh si pemberi atau penyampai informasi. Penyebabnya kurangnya kemampuan berkomunikasi, baik dari penyampai pesan atau penerima pesan.
Win-win solution yaitu penanganan masalah dengan menggunakan segala pengetahuan, sikap dan keterampilan menciptakan relasi komunikasi dan interaksi yang dapat membuat pihak-pihak yang terlibat saling merasa aman dari ancaman, merasa dihargai, menciptakan suasana kondusif dan memperoleh kesempatan untuk mengembangkan potensi masing-masing dalam upaya penyelesaian konflik. Penyelesaian konflik salah paham dengan langkah sebagai berikut. (1) Mencari tahu/ informasi latar belakang atau penyebab, sumber-sumber dan inti masalah konflik pada siswa. (2) Langkah ke-dua, guru dapat memberi bimbingan kepada siswa untuk melakukan perdamaian. (3) Guru juga dapat memberikan konseling yaitu dengan beberapa treatment konseling yang nantinya membuat siswa menyadari bahwa konflik diantara mereka perlu diakhiri.

B.     SARAN
Semoga dengan dibuatnya makalah mengenai strategi penanganan konflik salah paham dengan win-win solution ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan bagi guru-guru pada khususnya. Sehingga masalah-masalah yang timbul di lingkungan sekolah maupun masyarakat dapat ditangani secara tepat sehingga tidak menimbulkan permasalahan yang lebih besar lagi di kemudian hari.



DAFTAR PUSTAKA

Wirawan. 2010. Konflik dan Manajemen Konflik (Teori, Aplikasi, dan Penelitian). Jakarta: Salemba Humanika
http://id.m.wikipedia.org/wiki/konflik diakses pada tanggal 26 November 2013
www.fkip.unej.ac.id diakses pada 26 November 2013
www.wordpress.com diakses tanggal 26 November 2013


PENGUKURAN DAN PENILAIAN DALAM BELAJAR


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Memang tidak semua orang menyadari bahwa setiap saat kita selalu melakukan pekerjaan evaluasi. Dalam beberapa kegiatan sehari-hari, kita jelas-jelas mengadakan pengukuran dan penilaian. Hal ini dapat dilihat mulai dari berpakaian, setelah berpakaian kemudian dihadapkan ke kaca apakah penampilannya sudah baik atau belum. Dari kalimat tersebut kita sudah menemui tiga buah istilah yaitu: evaluasi, pengukuran, dan penilaian. Sementara orang cenderung lebih mengartikan ketiga kata tersebut sebagai suatu pengertian yang sama sehingga dalam pemakaiannya tergantung dari kata mana yang siap diucapkannya.

Dalam setiap pembelajaran, pendidik harus berusaha mengetahui hasil dari proses pembelajaran yang ia lakukan. Hasil yang dimaksud adalah baik atau tidak baik, bermanfaat, atau tidak bermanfaat, dll. Apabila pembelajaran yang dilakukannya mencapai hasil yang baik, pendidik tentu dapat dikatakan berhasil dalam proses pembelajaran dan demikian sebaliknya.

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengetahui hasil yang telah dicapai oleh pendidik dalam proses pembelajaran adalah melalui evaluasi. Evaluasi yang dilakukan oleh pendidik ini dapat berupa evaluasi hasil belajar dan evaluasi pembelajaran. Sehingga dalam makalah ini penyusun akan membahas tentang pengukuran dan penilaian dalam pendidikan.


B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa yang dimaksud dengan pengukuran dalam pendidikan?
2.      Apa yang dimaksud dengan penilaian dalam pendidikan?

C.     TUJUAN
1.      Untuk mengetahui pengertian pengukuran dalam pendidikan.
2.      Untuk mengetahui pengertian penilaian dalam pendidikan.


D.     
BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGUKURAN DALAM PENDIDIKAN
Menurut Sutrisno Hadi (1997), Pengukuran adalah suatu tindakan untuk mengidentifikasikan besar kecilnya gejala. Sedangkan menurut Remmers, dkk (1960) mengemukakan bahwa “Measurement”  berasal dari kata “to measure” yang artinya suatu kegiatan atau proses untuk menetapkan dengan pasti luas, dimensi, dan kuantitas dari sesuatu dengan cara membandingkan terhadap ukuran tertentu.
Pengukuran adalah penentuan besaran, dimensi, atau kapasitas, biasanya terhadap suatu standar atau satuan pengukuran. Pengukuran tidak hanya terbatas pada kuantitas fisik, tetapi juga dapat diperluas untuk mengukur hampir semua benda yang bisa dibayangkan, seperti tingkat ketidakpastian, atau kepercayaan konsumen. Pengukuran adalah proses pemberian angka-angka atau label kepada unit analisis untuk merepresentasikan atribut-atribut konsep. Proses ini seharusnya cukup dimengerti orang walau misalnya definisinya tidak dimengerti. Hal ini karena antara lain kita sering kali melakukan pengukuran.
Dalam hal ini guru menaksir prestasi siswa dengan membaca atau mengamati apa saja yang dilakukan siswa, mengamati kinerja mereka, mendengar apa yang mereka katakan, dan menggunakan indera mereka seperti melihat, mendengar, menyentuh, mencium, dan merasakan. Dalam kegiatan belajar mengajar, pengukuran hasil belajar dimaksudkan untuk mengetahui seberapa jauh perubahan tingkah laku siswa setelah menghayati proses belajar. Pengukuran yang dilakukan oleh guru lazimnya menggunakan tes sebagai alat pengukur. Hasil pengukuran tersebut berwujud angka ataupun pernyataan yang mencerminkan tingkat penguasaan materi pelajaran bagi siswa atau prestasi belajar. Menurut Zainul dan Nasution (2001) pengukuran memiliki dua karakteristik utama yaitu:
1) penggunaan angka atau skala tertentu;
2) menurut suatu aturan atau formula tertentu.
Pengukuran dalam bidang pendidikan berarti mengukur atribut atau karakteristik peserta didik tertentu. Dalam hal ini yang diukur bukan peserta didik tersebut, akan tetapi karakteristik atau atributnya. Arikunto dan Jabar (2004) menyatakan pengertian pengukuran (measurement) sebagai kegiatan membandingkan suatu hal dengan satuan ukuran tertentu sehingga sifatnya menjadi kuantitatif.
B.     PENILAIAN DALAM PENDIDIKAN
Penilaian (assessment) adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar peserta didik atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik. Penilaian menjawab pertanyaan tentang sebaik apa hasil atau prestasi belajar peserta didik. Hasil penilaian dapat berupa nilai kualitatif (pernyataan naratif dalam kata-kata) dan nilai kuantitatif (berupa angka). Pengukuran berhubungan dengan proses pencarian atau penentuan nilai kuantitatif tersebut.
Penilaian hasil belajar pada dasarnya adalah mempermasalahkan, bagaimana pengajar (guru) dapat mengetahui hasil pembelajaran yang telah dilakukan. Pengajar harus mengetahui sejauh mana pebelajar (learner) telah mengerti bahan yang telah diajarkan atau sejauh mana tujuan/kompetensi dari kegiatan pembelajaran yang dikelola dapat dicapai. Tingkat pencapaian kompetensi atau tujuan instruksional dari kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan itu dapat dinyatakan dengan nilai.
Menurut Suharsimi Arikunto; menilai adalah mengambil keputusan terhadap sesuatu dengan baik, penilaian yang bersifat kuantitas. Menurut Mahrens; penilaian adalah suatu pertimbangan professional atau proses yang memungkinkan seseorang untuk membuat suatu pertimbangan mengenai nilai sesuatu. Penilaian adalah suatu tindakan untuk memberikan interpretasi terhadap hasil pengukuran dengan menggunakan norma tertentu untuk mengetahui tinggi rendahnya atau baik buruknya aspek tertentu. Semua usaha membandingkan hasil pengukuran terhadap suatu bahan pembanding atau patokan atau norma disebut penilaian.
Beberapa kasus mungkin akan menunjukkan jika penilaian terkadang tidak perlu harus selalu melalui proses pengukuran. Karena bisa jadi untuk beberapa situasi kriteria-kriteria yang diperlukan telah disediakan atau menggunakan kriteria-kriteria sebelumnya. Di sini evaluator dapat langsung membandingkan data dengan kriteria yang ada untuk melakukan penilaian.
1.      Penilaian Acuan Norma (PAN)
Penilaian acuan norma (PAN) merupakan pendekatan klasik, karena tampilan pencapaian hasil belajar siswa pada suatu tes dibandingkan dengan penampilan siswa lain yang mengikuti tes yang sama. Pengukuran ini digunakan sebagai metode pengukuran yang menggunakan prinsip belajar kompetitif.  Menurut prinsip pengukuran norma, tes baku pencapaian diadministrasi dan penampilan baku normatif dikalkulasi untuk kelompok-kelompok pengambil tes yang bervariasi. Skor yang dihasilkan siswa dalam tes yang sama dibandingkan dengan hasil populasi atau hasil keseluruhan yang telah dibakukan. Guru kelas kemudian mengikuti asas yang sama, mengukur pencapaian hasil belajar siswa, dengan tepat membandingkan terhadap siswa lain dalam tes yang sama. Seperti evaluasi empiris, guru melakukan pengukuran, mengadministrasi tes, menghitung skor, merangking skor, dari tes yang tertinggi sampai yang terendah, menentukan skor rerata menentukan simpang baku dan variannya. Berikut ini beberapa ciri dari Penilaian Acuan Normatif , antara lain:
a.       Untuk menentukan status setiap peserta didik terhadap kemampuan peserta didik lainnya. Artinya, Penilaian Acuan Normatif digunakan apabila kita ingin mengetahui kemampuan peserta didik di dalam komunitasnya seperti di kelas, sekolah, dan lain sebagainya.
b.      Menggunakan kriteria yang bersifat “relative”.  Artinya, selalu berubah-ubah disesuaikan dengan kondisi atau kebutuhan pada waktu tersebut.
c.       Nilai hasil dari Penilaian Acuan Normatif tidak mencerminkan tingkat kemampuan dan penguasaan siswa tentang materi pengajaran yang diteskan, tetapi hanya menunjuk kedudukan peserta didik (peringkatnya) dalam komunitasnya (kelompoknya).
d.      Penilaian Acuan Normatif memiliki kecenderungan untuk menggunakan rentangan tingkat penguasaan seseorang terhadap kelompoknya, mulai dari yang sangat istimewa sampai dengan yang mengalami kesulitan yang serius.
e.       Penilaian Acuan Normatif memberikan skor yang menggambarkan penguasaan kelompok.
2.      Penilaian Acuan Patokan (PAP)
Penilaian acuan patokan (PAP) biasanya disebut juga criterion evaluation merupakan pengukuran yang menggunakan acuan yang berbeda. Dalam pengukuran ini, siswa dikomparasikan dengan kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dalam tujuan instruksional, bukan dengan penampilan siswa yang lain. Keberhasilan dalam prosedur acuan patokan tergantung pada penguasaaan materi atas kriteria yang telah dijabarkan dalam item-item pertanyaan guna mendukung tujuan instruksional.
Dengan PAP, setiap individu dapat diketahui apa yang telah dan belum dikuasainya. Bimbingan individual untuk meningkatkan penguasaan siswa terhadap materi pelajaran dapat dirancang sedemikian pula untuk memantapkan apa yang telah dikuasainya dapat dikembangkan. Guru dan setiap peserta didik (siswa) mendapat manfaat dari adanya PAP.
Melalui PAP berkembang upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dengan melaksanakan tes awal (pre test) dan tes akhir (post test). Perbedaan hasil tes akhir dengan test awal merupakan petunjuk tentang kualitas proses pembelajaran. PAP juga dapat digunakan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya kurang terkontrolnya penguasaan materi, terdapat siswa yang diuntungkan atau dirugikan, dan tidak dipenuhinya nilai-nilai kelompok berdistribusi normal. PAP ini menggunakan prinsip belajar tuntas (mastery learning).
3.      Persamaan dan Perbedaan Penilaian Acuan Norma (PAN) dan Penilaian Acuan Patokan (PAP)
Penilaian Acuan Norma dan Penilaian Acuan Patokan mempunyai beberapa persamaan sebagai berikut:
a.       memerlukan adanya tujuan evaluasi spesifik sebagai penentuan fokus item yang diperlukan. Tujuan tersebut termasuk tujuan intruksional umum dan tujuan intruksional khusus
b.      memerlukan sample yang relevan, digunakan sebagai subjek yang hendak dijadikan sasaran evaluasi. Sample yang diukur mempresentasikan populasi siswa yang hendak menjadi target akhir pengambilan keputusan.
c.       memerlukan item-item yang disusun dalam satu tes dengan menggunakan aturan dasar penulisan instrument.
d.      mempersyaratkan perumusan secara spesifik perilaku yang akan diukur.
e.       menggunakan macam tes yang sama seperti tes subjektif, tes karangan, tes penampilan atau keterampilan.
f.       dinilai kualitasnya dari segi validitas dan reliabilitasnya.
g.      digunakan ke dalam pendidikan walaupun untuk maksud yang berbeda.
Adapun perbedaan antara PAN dan PAP adalah sebagai berikut:
PAN
PAP
mengukur sejumlah besar perilaku khusus dengan sedikit butir tes untuk setiap perilaku
mengukur perilaku khusus dalam jumlah yang terbatas dengan banyak butir tes untuk setiap perilaku
menekankan perbedaan di antara peserta tes dari segi tingkat pencapaian belajar secara relatif
menekankan penjelasan tentang apa perilaku yang dapat dan yang tidak dapat dilakukan oleh setiap peserta tes.
lebih mementingkan butir-butir tes yang mempunyai tingkat kesulitan sedang dan biasanya membuang tes yang terlalu mudah dan terlalu sulit
mementingkan butir-butir tes yang relevan dengan perilaku yang akan diukur tanpa perduli dengan tingkat kesulitannya.
untuk survey
untuk penguasaan



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat kita ambil di sini adalah dalam melakukan sebuah evaluasi kita juga akan melakukan penilaian dan pengukuran di dalamnya untuk menguji data atau informasi yang kita peroleh apakah telah sesuai dengan kriteria dan tujuan awal dilakukannya kegiatan pembelajaran. Mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran (bersifat kuantitatif). Menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk (bersifat kualitatif), dan evaluasi meliputi kedua langkah tersebut di atas.

B.     Saran
Sebagai seorang calon guru, kita hendaknya memperhatikan dan memahami bagaimana cara untuk mengetahui perkembangan peserta didik kita nantinya. Untuk mengetahui seberapa jauh perkembangan peserta didik, maka digunakanlah sistem pengukuran dan penilaian. Guru wajib mengetahui dan memahami cara penilaian dan pengukuran tersebut agar dapat mencapai apa yang menjadi tujuan guru mendidik dan mengajar.



DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2012. Prinsip Pengukuran dan Penilaian. http://www.inoputro.com/2012/09/prinsip-pengukuran-dan-penilaian/ diakses tanggal 24 November 2012.

Navel Oktaviandy. 2012. Pengertian Evaluasi, Pengukuran, dan Penilaian dalam Dunia Pendidikan. http://navelmangelep.wordpress.com/2012/02/14/pengertian-evaluasi-pengukuran-dan-penilaian-dalam-dunia-pendidikan/ diakses tanggal 24 November 2012.

Rita Kurniawati. 2012. Konsep PAN dan PAP.  http://reithatp.blogspot.com/2012/04/konsep-pan-dan-pap_13.html diakses tanggal 25 November 2012.

Sugihartono, dkk. 2007. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.

Zulkifli Muchtar. 2011. Perbedaan Pengukuran, Penilaian, Evaluasi, dan Assesment.


iv